POMSI

A. Pomp LangLang Buana Jakarta

Meskipun perlombaan merpati pos sudah sejak lama ada tapi gaungnya tidak begitu menggelegar. Sangat beda jauh dengan hobi lainnya. Kalau Eropa sudah mengenal Merpati Pos pada abad 19 maka Indonesia khususnya pulau jawa baru mengenal pada sekitar tahun 1950. Pada tahun itu orang-orang Belanda yang masih ada disini mendirikan perkumpulan merpati Pos yang diberi nama “Akbar Khan” yang anggotanya terdiri dari orang-orang Belanda dan Indo Belanda dibawah pimpinan Mencer Kransier.

Sedikit sekali orang-orang Indonesia yang ikut dalam perhimpunan itu, dikarenakan belum begitu paham betul mengenai seluk beluk Merpati Pos. Pada sekitar tahun 1960 an, setelah orang-orang Belanda satu persatu meninggalkan Indonesia maka oleh orang-orang Indonesia nama “Akbar Khan” diganti menjadi “Lang Lang Buana” hingga sampai saat ini. Seiring dengan berjalannya waktu dari tahun ketahun maka pada tahun 1968 disepakati bersama untuk mendirikan Persatuan Olah Raga Merpati Pos Seluruh Indonesia yang disingkat POMPSI dengan kongres pertamanya saat itu di Jakarta yang diikuti oleh POMP Lang Lang Buana, POMP Alap Alap Bandung, POMP Dhirgantara Surakarta, POMP Mataram Yogyakarta, POMP Garuda Semarang, dan POMP Jatayu Surabaya.

Sejak berdirinya POMP Lang Lang Buana Jakarta sudah banyak kegiatan yang diikuti secara aktif antara lain, Berpatisipasi dalam pelepasan burung dari zaman Ganefo, Asean Games, PON pada saat pembukaan. Ikut berpatisipasi lomba Merpati Pos yang memperebutkan Piala Tien Soeharto dalam rangka perayaan HUT Taman Mini Indonesia Indah dimana burung diperlombakan dari Denpasar – Jakarta.

Piala Pangdam Siliwangi memperlombakan burung antar kota Jakarta dan Bandung (burung dilepas secara menyilang dan diikuti oleh ribuan burung). Pernah terjadi burung POMP LLB Jakarata pada tahun 1988 memecahkan rekor dunia terbang jarak super jauh 1000 mil (1609 Km) dari Ruteng NTT ke Jakarta melewati 4 selat yaitu Selat Flores, Selat Sumbawa, Selat Lombok dan Selat Bali serat pegunungan-pegunungan sepanjang perjalanan, angin lepas sepanjang selat dilalui hanya dalam waktu 4 hari oleh burung milik Letkol Marinir Yett Resdianto dengan No incin P 87 870560. Sungguh luar biasa sedang di Amerika saja sampai 1 minggu baru kembali kekandang asalnya.

B. Perjalanan singkat POMP Lang Lang Buana

Tahu apa artinya POMSI? Ini singkatan dari Persatuan Olahraga Merpati pos Seluruh Indonesia. Lengkapnya POMSI Langlang Buana. “Dan panitya SEA Games telah meminjam burung dara kami untuk upacara pembukaan,” ujar Lim Hok Leng (65 tahun), yang jadi Sekretaris Jenderal POMSI.

Ada 1.000 ekor burung diperlukan dalam upacara itu, pinjaman dari anggota-anggota organisasi ini. Hok Leng, telah 25 tahun lamanya menggemari burung merpati pos ini. Bahkan sejak duduk di sekolah dasar, dia sudah tergila-gila akan burung merpati pos. Di kawasan Jakarta, anggota POMSI baru 60 orang. Seluruh Indonesia sekitar 100 orang. Kalau dibandingkan dengan luar negeri, keanggotaan di Indonesia belum seberapa. Di Belgia misalnya, ada ribuan klab merpati pos, demikian juga di Amerika Utara dan Belanda. Di Inggeris bahkan ada majalah khusus mengenai merpati pos ini dengan nama Racing Pigeon Pictorial, di Belanda ada Nederlands Postduiven organisation vang berisi segala sesuatu tentang pemeliharaan burung merpati pos, bentuk kandang, menu, jual beli anak merpati, yang juga meliputi daerah Belgia. Merpati pos, di kala Perang Dunia II adalah Pak Pos yang paling ampuh untuk membawa berita-berita dari front yang tidak bisa ditembus oleh tentara ke front yang lain.

Di masa damai, merpati pos menjadi sahabat tersayang. Mereka hidup teratur, makanan terjamin diobati bila sakit, bahkan pacar pun tersedia dan tinggal pilih. Suatu kehidupan yang cukup manja. Nama yang diberikan terkadang lucu, seperti si Putih, si Bambang, si Kumel, si Gelang Johnny dan nama-nama lainnya. Kemanjaan ini harus dibayar oleh sang merpati pos dengan satu macam kerja saja menangkan setiap ada perlombaan terbang jarak jauh. Hok Leng tidak banyak memiliki merpati pos ini. Cuma 30 ekor, itupun menurut pengakuannya, dia tidak pernah beli. “Saya sendiri yang melatih atlit-atlit saya ini dalam lomba terbang,” ujarnya. Awal September ini, atlitnya yang bernama Kram Sen Kid (singkatan dari Kramat Sentiong) telah keluar sebagai “juara utama” dan meraih piala Presiden untuk lomba sejauh 1.060 km. Yaitu jarak antara Tegal-Jakarta (270 km), Pekalongan-Jakarta (330 km) dan Gambingan-Jakarta (460 km). Kecepatan tempuh Kram Sen Kid rata-rata, 1.126 meter per menit. Dia sanggup melayang sejauh 67,5 km dalam tempo satu jam. Kekuatan terbang merpati biasa paling jauh cuma 60 km. Di pasar burung jalan Pramuka Jakarta, ada memang dijual merpati pos dengan harga murah, “tetapi mutunya tidak jelas,” sahut ir. Abdul Madjid (42 tahun), yang memiliki 50 ekor merpati pos kelas gedongan. Mirip dengan anjing ras, juga dicantumkan silsilah keluarga merpati ini (dari garis ayah dan ibunya) yang pernah jadi juara atau belum. Siapa yang menjadi anak atau cucu sang juara, gengsinya akan naik. Demikian pula harganya. Abdul Madjid sendiri pernah membeli seekor anak merpati pos dengan harga Rp 30.000. “Dan ini saya jadikan bibit,” ujarnya. Sedangkan merpati pos yang pernah enam kali juara dalam lomba jarak sejauh 800 km, telah dipasang harga senilai dengan sebuah Mercy, Rp 25 juta. “Burung membuat kita sibuk dan waktu jadi terisi,” kata Madjit. Kegemaran ini timbul setelah dia mengambil oper hobi anaknya yang kurang telaten. Merawat burung merpati pos rupanya harus dilakukan dengan teliti. “Kalau suami saya sedang pergi ke luar kota,” kata Nyonya Bimala Subagio, “yang ditanyakan pertama kali lewat telpon adalah merpatinya Subagio Sutjitro, juga anggota POMSI, tampaknya pemilik yang mempunyai merpati pos paling banyak. Burungnya tidak kurang dari 200 ekor. Rata-rata mempunyai warna sama, biru tua. Kalau ada merpatinya yang menetas dengan warna lain, lebih baik dikasihkan orang lain. Karena dia percaya, warna biru tua inilah yang paling jagoan. Atau ya memang itulah warna kesukaannya. Penyakit Subagio Sutjitro (45 tahun) memanfaatkan rumahnya yang bertingkat 3 di daerah Menteng (Jakarta), untuk kandang burungnya. Di tingkat ketiga inilah, bersemayam para merpati pos yang begitu dimanjakannya Tiap merpati mempunyai rumah masing-masing. Biarpun telah jinak, kandang perlu diberi pagar kawat. Lantai kandang, selalu bersih. Kalau siang hari, agar tidak kepanasan, dipasang kipas angin yang membuat udara menjadi sejuk. Bagi merpati yang tampaknya kurang sehat, disediakan kamar tersendiri sebagai karantina. Jam-jam di mana burungnya harus makan, musik dari polyphon (yaitu gramophon tua setinggi 2 meter dengan piringan hitam masih dari lempengan logam) diputar.

Tapi belakangan sering jam makan ditentukan memukul bel di muka kandang. Merpati-merpati yang sedang main-main di udara atau di mana saja beramai-ramai berdatangan begitu mendengar bunyi bel. Menunya? Macam-macam. Biasanya berkisar pada kacang-kacangan seperti gabah, jagung, kacang ijo, kacang merah, wijen, ditambah berbagai macam vitamin. “Dan merawat merpati berikut makanannya kadang-kadang harus bekerja seperti Mannix,” ujar Subagio. Artinya, setiap pemilik selalu mempunyai rahasia-rahasia yang tabu untuk diketahui oleh pemilik lain seperti yang selalu dipegang peran utama film seri tv itu. Di antara mereka bahkan ada yang menyelundupkan pembantu agar bisa mengetahui bagaimana rahasia kesuksesan merpatinya. Merpati yang berharga mahal yaitu kelas ratusan ribu rupiah sampai jutaan, tidak menjamin bisa meraih kemenangan. “Tetapi yang terpenting ialah perawatan dan latihan,” kata Subagio, “dan saya sendiri yang melatih dengan penuh disiplin para atlit saya ini.” Perawatan Subagio memang rapi. Tiap-tiap merpati, mempunyai data-data sendiri yang bisa dilihat di lemari file dekat kandang dalam kartu yang namanya pedigree. Begitu ada tahi burung yang berwarna lain (hijau tua) kontan cepat dicari siapa pemiliknya. Lewat sebuah mikroskop yang tersedia, kotoran itu diselidiki. Jika dia menderita salmonellosis paratyphoid harus dipisahkan dari yang lain. Sering, si sakit diinjeksi sendiri oleh para coach yang tak lain adalah pemiliknya sendiri. Menurut Hok Leng, penyakit lain yang sering diderita piaraannya ialah pilek dan cacar burung. Pilek, seperti manusia juga biasanya terjadi kalau ada perubahan cuaca. Bahkan menurut Madjid bahaya lainnya ialah kucing dan penembak burung liar. Karena itu, burung selalu dilatih terbang di pagi hari yaitu ketika sebagian besar penghuni kota sedang sibuk untuk bekerja atau sekolah. Pernah, dada merpati Madjit kena peluru. Padahal itu merpati yang paling disayang. Binatang itu dibawanya ke dokter. Dirontgen segala. Toh burungnya mati juga. “Di sini, belum ada dokter hewan spesialis burung merpati,” keluh Madjit, “sedangkan kalau di luar negeri, malahan ada klinik khusus merpati.” Setiap hari burung-burung itu sudah memiliki jadwal kerja. Dimulai jam 06.00 pagi. Pintu kandang dibuka dan hari berarti latihan untuk mereka. Waktu mengudara cukup satu jam saja, kemudian jam 07.00, sarapan telah tersedia. Satu jam berikutnya, para atlit yang memerlukan latihan khusus dimasukkan ke dalam keranjang. Mereka yang sedang bertelur, sedang tidak enak badan atau menjaga anaknya, dibebaskan dari latihan wajib. Jam 12.00 siang, makan lagi. Menunya kadang-kadang dilengkapi wortel, bawang putih dan air teh segala. Jam 15.30, para atlit latihan terbang lagi. Jam 16.30 acara makan terakhir dan jam 18.00, para atlit harus masuk kandang kembali. Jadwal tersebut di atas tidak boleh terganggu dari sehari ke hari lainnya. Duchess of Kent “Merpati adalah mahluk yang paling setia kepada pasangannya,” kata Subagio. Dia bahkan lebih setia ketimbang manusia yang suka menyeleweng terhadap partnernya. Karena itu agar seekor burung terbang secepat mungkin harus dipancing dengan pacarnya. Ia akan cepat-cepat pulang kekandang karena himbauan hatinya terhadap partnernya.

Apalagi burung yang sedang dalam taraf birahi, dia akan pulang secepatnya kalau dilepas dari suatu tempat, yang puluhan atau ratusan kilometer jauhnya! “Tidak ada itu istilah mampir-mampir,” kata Subagio. Dalam perlombaan terakhir, seekor burungnya berhasil memenangkan lomba Tegal-Jakarta untuk nomor dua. Lomba di Indonesia (pulau Jawa) yang terakhir September lalu untuk jarak Tegal-Jakarta, diikuti oleh 500 ekor burung.Dia juga berniat ikut menyaksikan olimpiade merpati di Tokyo 1981. Memelihara merpati pos memang relatif tidak banyak mengeluarkan biaya. Untuk menu yang jempolan, paling banter menelan ongkos makan Rp 230 se bulan tiap ekor. Demikian sekilas perjalanan singkat para anggota POMSI Lang Lang Buana Jakarta tahun 80 an, tapi sekarang setelah beberapa puluh tahun yang lalu, POMSI belum juga mengelegar seperti permainan merpati-merpati lainnya di Indonesia.

5 Responses to POMSI

  1. hendri prastyo mengatakan:

    Bapak Subagio..
    saya juga pelihara merpati pos saya punya indukan beli dari pa Hendri Yin…dan pernah saya lepaskan di solo 3 ekor pulang hanya 1, itu anakan yang saya beli dari p hendri yin…

    kalaw Bapak Subagio..mau mengurangi burungnya karena sudah kebanyakan saya mau memelihara untuk pengambilan trahnya untuk saya silangkan, saya memang belum ikut bergabung dengan POMPSI karena untuk burungnya saya hanya baru punya 2 pasang indukan dan 2 pasang anakan….kalaw memang Bapak Subagio mau mengurangi burungnya dan mau diberikan dengan cuma cuma untuk dipelihara saya berminat untuk menerimanya….salam kenal Hendri Prastyo Bintaro Hp. 0815 85217745

  2. agus mengatakan:

    Bpk Subagio kalau mau mengurangi burung merpatinya saya mau sekali lho karena saya cari – cari peternak di semarang sulit, saya berminat sekali lho

  3. M,bajari mengatakan:

    Bpk subagio…saya berminat sekali memelihara burung merpati bpk
    selama ini saya sudah coba mengembangbiakan merpati pos saya tapi belum juga beranak pinak sudah hampir 6bln akan sangat berterima kasih banget apabila bpk mau memberikan merpati bpk kpd saya dan insyaAllah akan saya kembangbiakan n saya rawat bae-bae.
    trima kasih

  4. ivan_Tan mengatakan:

    saya berminatpelihara merpati pos..ini emailku: tanadiivan@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: