Taktik Motivasi WidowHood dan Natural

 

Sebelum membaca tentang teori widowhood, sebaiknya perhatikan foto yang ditampilkan terlebih dahulu. Kotak Widowhood teridiri dari sebuah kotak yang disekat dengan besi/kayu untuk memisahkan tempat sarang (petarangan/ nest bowl/ nest box) dengan sebelahnya (tempat kawin/ tempat nongkrong si pejantan pada malam hari). Dengan kata lain dalam satu box perpasangan, dibagi 2 dengan sekat: sebelah kiri tempat bertelur, sebelah kanan tempat jantan nongkrong/ kawin.
di Indonesia, salah satu Master dalam sistem Widowhood yang pernah saya kunjungi dan pelajari langsung adalah Pak Indra Lukita. Puluhan Piala bisa diraih dengan sistem widowhood ini….
Tambahan, khusus untuk widowhood yang dibahas ditulisan ini, adalah untuk si Pejantan… kalau ada kalimat inggris “them”, itu berarti jantan2 yang akan dibawa ke inkorf, bukan pasangan jantan & betina. Widowhood bisa dijalankan pada betina juga (double widowhood), tapi tidak akan efektif jika dilombakan bareng dengan jantannya, bahkan bisa hilang dua2nya… widowhood hanya dilombakan salah satu, atau melombakan keduanya di lomba yang berbeda…

Lomba Sprint – s/d 200miles/ 300km
Dengan Lomba mpos tipe Sprint ini, kita dapat memotivasi secara ekstrem ke Pejantan, karena si Jantan hanya menghabiskan satu malam di dondang lomba bersama mpos pesaing lain. Jangan menyia2kan energi dengan terlalu khawatir/ resah tentang apa yang terjadi dengan si Jantan ini. Berikut ada beberapa trik yang bisa digunakan untuk memotivasi dengan pengaruh yang besar pada
si Pejantan dalam lomba mpos tipe sprint ini:
1. Perlihatkan betina kepada si Jantan selama 10-15 menit, lalu masukkan jantan dalam dondang dan bawa ke Klub untuk inkorf.
2. Tempatkan si Jantan di kotak bagian tempat untuk bertelur 10-15 menit tanpa ada betinanya, kemudian lepaskan betina di kotak sebelahnya dan biarkan betina berusaha masuk kekotak sarang semaunya selama 5 menit, lalu tinggalkan betina disarang, dan bawa si Jantan untuk Inkorf
3. Tempatkan pejantan lain dikotak sarang bertelur, atau tempatkan pejantan lain bersama betina (istrinya) selama beberapa menit, sementara si Jantan tidak bisa masuk ke kotak sarangnya. lalu ambil dan bawa si Jantan untuk Inkorf
4. Tempatkan 2 betina lain di kotak sebelah jantan selama 5 menit, lalu lepaskan si Jantan untuk membekuri 2 betina tersebut selama 5 menit, lalu bawa ke Inkorf klub
5. Biarkan Si Jantan dan betinanya terbang selama 30 menit sebelum basketing, setelah mereka turun dan masuk ke kotak petarangan, segera ambil si Jantan dan bawa ke inkorf klub (berguna untuk jenis lomba sprint terjauh)
6. Perkenalkan si Jantan dengan betina baru selama 15 menit sebelum si Jantan dibawa Inkorf.

Lomba Jarak menengah – hingga 400 miles/600km
Lomba Jarak menengah seringkali memakan waktu 2-3 hari mpos didalam dondang ketempat pelepasan, tapi beberapa mpos masih memiliki semangat untuk sprint pulang walau sudah kehilangan energi vitalnya karena berjalan mondar mandir didalam dondang, termasuk panik untuk secepatnya keluar dondang terbang. Saya punya trik motivasi yang lebih baik dari yang pertama tadi,
bahkan kadang2 masih bisa berfungsi untuk durasi satu minggu didalam dondang lepasan. Beberapa Trik yang dapat digunakan untuk lomba jarak menengah:
1. Letakkan si Jantan didalam kotak bersama tempat bertelur selama 30 menit, kemudian masukkan betina dan biarkan bermain/ pacaran bersama selama 1 jam, lalu masukkan jantan ke dondang untuk dibawa inkorf
2. Letakkan jantan dalam kotak tempat bertelur selama 15 menit di pagi hari, kemudian masukkan betinanya untuk pacaran selama 1 jam, kemudian ambil betinanya. Beri makan si Jantan di Sore hari. Tepat sebelum masuk dondang, berikan tempat bertelurnya selama 10 menit, lalu masukkan jantan ke dondang untuk dibawa inkorf
3. Biarkan Jantan dan Betina ngawang selama 30 menit dan jangan perbolehkan masuk (kunci kandang), setelah itu (30 menit diluar kandang) mpos akan turun, dan membiarkan mereka berada dikandang bertelur selama 30 menit, lalu bawa ke Inkorf.
4. Pertemukan si Jantan dengan betinanya sekitar Jam 11 Siang, dan biarkan mereka berduaan dikotak bertelurnya nya sampai menjelang basketing, kemudian bawa ke inkorf (gunakan hanya sekali per-musim)

Balap Long Distance – hingga 700 km miles/1200
Lomba Long Distance adalah lomba paling rumit/ sulit dalam tipe lomba motivasi, tidak banyak trik yang dapat dimainkan pada Jantan. Hal yang biasa bagi sebagian besar penghoby untuk mempercepat Jantan mereka dalam lomba jarak ekstrim. walaupun begitu, untuk balapan jenis ini, ada satu atau dua hal yang masih bisa dilakukan. Berikut adalah Trik motivasi yang bisa dipakai dalam lomba long distance.
1. Biarkan Si Jantan bersama betinanya dari jam 18.00 malam sebelum basketing dan besok paginya membiarkan si Jantan bermain2 dengan betina mereka. Sediakan tempat bertelur dengan jeraminya. Lalu masukkan jantan dalam dondang dan bawa ke inkorf.
2. Biarkan si Jantan bersama betinanya mulai jam 9 pagi, lalu berikan mereka tempat bertelur selama 30menit, lalu berikan jerami dan biarkan mereka bersama2 dikandang sepanjang hari, sampai saatnya basketing, bawa jantannya ke inkorf

Motivasi Natural – Semua Jarak Lomba
Motivasi Natural dipandang sebagai metode lomba mpos yang sudah usang. Tapi dalam banyak kasus, masih banyak hasil menakjubkan diperoleh dengan menggunakan sistem natural ini. Banyak penghobby mencoba cara natural ini dengan beberapa tingkat keberhasilan berbeda. Berikut adalah jenis favorit saya, yang bisa digunakan pada Jantan dan Betina, terutama lomba yearling.
1. Pisahkan pasangan semalam sebelum basketing untuk lomba tertentu – ini membuat pasangannya berpikir mereka harus menjaga sarang sendiri, dan dalam beberapa kasus dapat membuat mereka bertambah motivasinya.
2. tempatkan 2 butir telur dibawah pasangan yang telah duduk disarang selama 30 menit sebelum basketing. Jika kita bisa mengatur sepasang telur yang hampir menetas dan membiarkan ayam berlari2 di lantai sebelah kotak sarang – ini bisa mendorong burung menjadi liar, terutama betina
3. Tambahkan telur kesarang saat jam 4 pagi, sampai setidaknya ada 4 telur. Masukkan pasangan lain di kotak sarang, dikunci dan biarkan pasangan aslinya melihat dari sisi box sebelahnya selama 10 menit, sebelum keduanya dibawa ke inkorf.
4. Berikan pejantan beberapa betina cadangan pada pagi hari basketing, dan membuka beberapa kotak widowhood. Ini akan membuat pasangan yang sedang mengeram merasa terusik, kirimkan ke lomba pejantan yang tertarik dengan betina lain dikotak baru.
5. Kirim betina setelah meletakkan telur kedua (tidak membawa telur diperut dalam lomba), sangat baik jika ini adalah telur pertamanya tahun ini.
6. Kirim jantan yang sedang jatuh cinta pada betina kedua (pacaran disarang baru).
7. Kirim pasangan ketika sedang mengerami telur 10 hari
8. Kirim pasangan yang sudah mengerami 20-28 hari (betah ngeram telur palsu/ tidak menetas), biasanya semakin lama pasangan mampu mengeram, maka akan semakin baik kinerjanya (mungkin daya kangen ke telurnya maikin besar).
9. Kirim pasangan yang telurnya sedang retak mau menetas atau sudah punya piyik usia sehari (sepertinya maksudnya salah satu yang dikirim).
10. Tempatkan tempat tenggeran didepan kotak sarang si pembalap pada hari basketing – ini akan membuat mereka makin gila.
Selain menjalankan semua trik Natural diatas, juga bermanfaat untuk membiarkan mpos2 lomba tersebut melihat dari dondang selama satu menit kearah sarang mereka, sebelum membawa mereka inkork ke Klub.
NB: Silahkan diambil yang dirasa positif dan sesuai dengan kita… buang saja sisi negatif yang dirasa tidak benar… Thank’s
Original Theme by : Kunto “Mario” Wibisono

Perkawinan sekerabat = Inbreeding

Perkawinan sekerabat biasanya digunakan untuk memurnikan suatu sifat yang dikehendaki. Dapat juga merupakan usaha pemunculan sifat-sifat baik dari leluhur bersama yang bersifat resesif. Pada beberapa peternak persilangan kedalam digunakan untuk homogenisasi keturunan. Hal tersebut sangat diperlukan karena kwalitas produk suatu peternakan akan diragukan bila diperlombaan terbukti bahwa kemampuan merpati-merpati keturunan dari satu pasang indukan leluhur sangat beragam walaupun dipelihara dan dilombakan oleh orang yang sama. Pamor peternak akan terangkat bila kwalitas produknya hampir seragam.

Kerugian dari perkawinan sekerabat yang paling ditakuti adalah munculnya sifat resesif yang merugikan atau menyebabkan kematian. Namun bagi peternak pemberani hal tersebut merupakan suatu keuntungan karena dapat mengetahui keadaan genotype kedua indukan dan dapat segera mengafkirkannya. Kerugian lain dari silangan ini adalah pertumbuhan yang kurang maksimal mengakibatkan ukuran semakin kecil dari generasi ke generasi, tingginya angka kematian anak merpati dan menurunnya kemampuan reproduksi.

Perkawinan sekerabat berupa perkawinan antar individu yang memiliki hubungan langsung seperti anak dengan tetuanya, cucu dengan kakek atau neneknya dan seterusnya. Atau yang memiliki hubungan darah seperti individu dengan saudaranya, dengan saudara tirinya, dengan paman atau bibinya, dengan saudara sepupunya dan seterusnya.

Memahami pewarisan gen pada burung juara

Salah seorang rekan mengeluh, ia sudah membeli burung yang beberapa kali menjuarai lomba. Tentu dia berharap, dengan memiliki induk jantan berkualitas, maka anak-anaknya kelak juga berprestasi seperti bapaknya. Ketika dikawinkan dengan induk betina yang sudah lebih dulu dikoleksinya, ternyata sebagian besar anaknya memiliki kualitas biasa-biasa saja. Apakah pemilik lama burung juara itu berdusta? Tidak….! Apalagi rekan tersebut selalu mengikuti berita seputar lomba burung, dan beberapa kali melihatnya langsung. Dia tahu persis kualitas burung yang dibelinya. Kalau begitu, siapa yang salah? Tidak ada yang salah. Yang ada hanyalah kurang pahamnya rekan ini soal pewarisan gen pada burung-burung berkualitas atau burung-burung yang punya trah darah juara.

Criss-cross inheritance 

Dalam genetika atau ilmu pewarisan gen sifat dan karakter dari induk kepada anaknya, pewarisan kualitas burung menganut pola criss-cross inheritance. Gampangannya, anak betina meniru sifat dan karakter bapaknya. Sebaliknya, anak jantan meniru sifat dan karakter ibunya. Pola criss-cross inheritance tidak berlaku untuk pewarisan warna bulu, banyak faktor yang terlibat kalau pewarisan warna mulai dari gen dominan dan gen resesif, faktor tunggal dan faktor ganda, faktor gelap, dan sebagainya yang tidak akan jelaskan lebih lanjut di sini.

Pasangan kromosom

Pada burung, pola pewarisan gen terjadi ketika salah satu kromosom dari pasangan kromosom jantan bertemu dengan salah satu kromosom dari pasangan kromosom betina. Pasangan kromosom jantan memiliki simbol ZZ, sedangkan betina memiliki simbol ZW. Ketika kromosom Z dari induk betina bertemu dengan kromosom Z dari induk jantan, maka anaknya akan berjenis kelamin jantan (ZZ). Tetapi ketika kromosom W dari induk betina bertemu dengan Z dari induk jantan, maka anaknya berkelamin betina (ZW). Struktur kromosom pada burung berbeda dari manusia dan hewan mamalia. Pada manusia, laki-laki memiliki kromosom XY, sedangkan perempuan XX. Penentu jenis kelamin di sini adalah Y yang hanya dimiliki laki-laki. Sebaliknya, pada burung, penentu jenis kelamin adalah W yang hanya dimiliki induk betina. Dari penjelasan di atas, kita bisa melihat betapa besar faktor induk betina dalam mempengaruhi jenis kelamin dan kualitas suara anaknya. Ketika induk betina menghasilkan anak jantan, sesungguhnya ia akan meneruskan kromosom Z ke anaknya, sekaligus mewariskan kualitas sifat dan karakternya. Lho, bukankah kualitas betina jauh di bawah jantan? Tunggu dulu! Burung betina, sebut saja B, tetap mewarisi kualitas bapaknya (C). Tetapi sifat atau karakter itu tidak muncul, karena ia berkelamin betina. B tetap membawa sifat (carrier) kualitas bapaknya. Jika B dikawini pejantan A, maka anaknya (AB) yang jantan akan mewarisi kualitas yang pada dirinya tidak muncul. Kualitas tersebut, jika dirunut, diperoleh AB dari ibunya, dan ibunya mewarisi sifat ini dari C yang notabene kakek AB.

Empat Ilustrasi

Untuk lebih meningkatkan pemahaman ini, saya akan membuat empat ilustrasi, sekaligus kemungkinan yang bisa terjadi pada anak-anaknya yang jantan dan betina. 

1Induk jantan A yang punya trah juara mengawini betina B yang juga punya trah juara.

  • Jika anaknya betina (AB1), maka ia akan mewarisi bakat bapaknya (A), tetapi tidak bisa dimunculkan karena jenis kelaminnya betina. AB1 merupakan carrier dari kualitas A, yang kelak akan diturunkan kepada anak jantan dari AB1.
  • Jika anaknya jantan (AB2), ia tidak mewarisi kehebatan bapaknya (A), melainkan kualitas dari ibunya (B). Karena ibunya adalah trah juara, AB2 pun memiliki trah juara yang berasal dari kakeknya atau bapaknya B.

2. Induk jantan A yang punya trah juara mengawini betina B yang tidak punya trah juara.

  • Jika anaknya betina (AB1), maka posisinya sama seperti penjelasan poin 1.
  • Jika anaknya jantan (AB2), ia tidak mewarisi kualitas bapaknya (A), tetapi mewarisi kualitas ibunya (B). Karena ibunya bukan trah juara, maka ia pun tidak memiliki trah juara (kasus inilah yang sebenarnya terjadi).

3. Induk jantan A yang tidak punya trah juara mengawini induk betina B yang punya trah juara.

  • Jika anaknya betina (AB1), ia akan mewarisi sifat bapaknya yang bukan trah juara. Sifat bukan trah juara ini tidak bisa dimunculkan, karena ia hanya pembawa sifat dan hanya bisa muncul pada anak jantan dari AB1. Jadi, anak dari AB1 kelak juga tidak memiliki trah juara.
  • Jika anaknya jantan (AB2), maka ia tidak mewarisi sifat bapaknya yang bukan juara, melainkan kualitas dari ibunya (B). Karena ibunya punya trah juara, maka  AB2 pun punya trah juara yang berasal dari kakeknya atau bapaknya B.

4. Induk jantan A yang tak punya trah juara mengawini induk betina B yang tidak punya trah juara.

  • Jika anaknya betina (AB1), ia akan mewarisi sifat bapaknya yang bukan trah juara. Sifat ini tidak dimunculkan karena ia betina. Tetapi AB1 membawa sifat tersebut, yang akan diturunkan kepada anak jantan dari AB1. Nantinya, anak dari AB1 tetap tidak memiliki trah juara.
  • Jika anaknya jantan (AB2), ia juga tidak mewarisi sifat bapaknya yang bukan juara, melainkan karakter ibunya (B). Karena ibunya juga tidak punya trah juara, maka  AB2 pun tidak memiliki trah juara

Betina menjadi penentu

Melihat ilustrasi di atas, sekali lagi, peran induk betina dalam penentuan kualitas burung sangat besar. Ok, Anda tetap membeli burung jantan yang pernah juara. Ketika burung itu kawin dan anaknya yang jantan tidak berprestasi seperti bapaknya, jangan patah semangat. Peliharalah anak betina sampai dewasa. Ketika dijadikan indukan, sejatinya dia akan menjadi “mesin penghasil uang”, karena akan melahirkan anakan-anakan berkualitas. Di luar kualitas lainnya, setiap induk jantan dan betina sama-sama memiliki gen yang baik dan buruk dan akan diturunkan pada anak-anaknya. Misalnya soal mental, agresivitas, dan lain-lain. Artinya, tidak semua anak yang dihasilkan induk betina berkualitas akan menghasilkan anak jantan berkualitas, karena adanya kombinasi watak dari induk betina dan jantan. Proporsinya pasti terbelah menjadi berkualitas sangat baik, baik, sedang, dan kurang. Apabila induk jantan dan induk betina sama-sama memiliki trah juara, seperti penjelasan pada poin 1, proporsi untuk mendapatkan anak jantan berkualitas sangat baik dan baik tentu lebih besar daripada hanya induk betinanya saja yang berkualitas.

Faktor penentu lainnya

Lebih dari itu, gen hanyalah salah satu faktor penentu dari prestasi burung. Ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu lingkungan dan interaksi antara gen dan lingkungan. Faktor lingkungan misalnya pola perawatan, kualitas pakan, suasana kandang, cuaca dan sebagainya. Adapun interaksi antara gen dan lingkungan adalah efek yang dialami burung akibat kombinasi gen dan lingkungan.

Dengan pemahaman ini pula, para penghobi yang memiliki kualitas burung juara tidak boleh jumawa. Tanpa perawatan yang baik, pemberian pakan yang serasi dan seimbang, dan latihan rutin, bisa jadi burungnya akan kalah dari burung yang kualitas dasarnya masih di bawahnya, tetapi dirawat dan dilatih secara intensif.”

Melatih mental merpati pos agar siap berlomba di CLUB

Kadang merpati pos yang sudah dilatih sendiri mengecewakan saat dilatih diclub-club favorit kita. Kenapa????

karena merpati pos itu senang terbang berkelompok, sehingga saat dilepas dengan ratusan ekor merpati-merpati pos, akan selalu terbawa kepada kelompok besar tersebut. Jadi kita harus punya strategi agar merpati-merpati kesayangan kita bisa siap terbang diclub kesayangan kita. Salah satu yang biasa dilakukan senior-senior merpati pos adalah melepas merpati pos kita secara satu-persatu atau dua ekor-dua ekor saat latihan pribadi. Ini sangat bagus untuk mempersiapkan mental merpati pos agar nanti saat penerbangan diclub tidak terbawa kepada kelompok besar dan saat merpati terlepas dari kelompok dan nyasar kejalur yang tidak diingin akan siap terbang sendiri mencari jalur pulang kekandangnya. Bagaimana kalau kita punya banyak merpati pos dikandang, kita bisa melatihnya secara bergelombang setiap minggunya. Lebih baik hilang saat melatih sendiri dari pada saat diperlombaan merpati-merpati pos kita hilang satu persatu…

Untuk pelepasan burung merpati pos dengan satu persatu yaitu burung berikut dilepas setelah burung pertama atau sebelumnya tidak lagi kelihatan. Melepas dari tempat yang tinggi dan mengetahui terbangnya melalui teropong akan mudah kita lakukan. Cara ini dipakai untuk melatih burung terbang sendiri dan nantinya sanggup melepaskan diri dari kelompok sewaktu burung dilepas bersama-sama dalam pertandingan. Melepas burung dengan cara begini tentu banyak menyita waktu dan ada kecendrungan burung menanti kawannya. Tapi memang seharusnya dilakukan terus agar burung-burung merpati yang kita punya bisa siap dalam perlombaan diclub….

 

Pencacatan dalam pemeliharaan

Dalam memelihara merpati baik sebagai penghobi maupun peternak perlu menguasai dasar-dasar pemeliharaan akan menghadapi permasalahan. Selain itu recording atau pencatatan harus dilakukan dalam melakukan pengafkiran dan seleksi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas merpati-merpati yang dimiliki. Oleh karena itu dilakukanlah pencatatan hal-hal yang diperlukan antara lain tanggal lahir, silsilah, hasil pesilangan, penampilan umum dan khusus, riwayat pelatihan, pasangan yang pernah dikawin dan keturunan hasil perkawinan.

Semua itu dapat dicantum dalam sertifikat yang dikeluarkan oleh peternakan. Dengan adanya data-data tersebut, keadaan seekor merpati secara genotype dan fenotipe dapat dibayangkan. Selain itu perkembangan seekor merpati dapat diketahui dari data riwayat pelatihan. Merpati dengan kemajuan tinggi selama pelatihannya dapat dipilih sebagai indukan.

Adanya pencatatan ini juga melatih ketelitian peternak dalam pemeliharaan. Setiap merpati yang dimiliki akan mendapatkan perhatian yang relative sama. Pencacatan juga memudahkan pembeli untuk memilih merpati yang akan dibeli, tentunya dengan keyakinan bahwa data-data yang ada menunjukan keadaan yang sebenar-sebenarnya. Disinilah kejujuran seorang peternak diuji. Peternak yang memanipulasi data akan segera diketahui oleh konsumen sehingga cepat atau lambat akan ditinggalkan dan tidak akan dipercaya lagi oleh pasar.

Setiap peternak memiliki berbagai cara dalam melakukan pencacatan produksi atau riwayat pelatihan merpati-merpati yang dipeliharanya. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat pencatatan yang mudah dimengerti. Peternak tak mungkin mengingat satu persatu catatan dari tiap merpati serta menyimpanan dengan rapi sehingga saat kita memerlukannya tidak sulit untuk mencarinya.

Bentuk merpati tinggi secara umum

Secara umum merpati tinggi yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut,

  1. Paruh yang pendek, lurus, kuat dan ujungnya sedikit melengkung menandakan keket atau giringnya bagus.
  2. Mata jernih dengan biji mata bulat penuh tidak terlihat pecah dan kecil menandakan kemampuannya cukup baik untuk melihat jelas dari kejauhan.
  3. Kepala yang proposional dan cukup besar menandakan isi otaknya besar dan cerdas.
  4. Leher yang cuku panjang dan besar tetapi tetap proposional dapat menjaga posisi terbang terhadap fluida udara agar tetap streamline.
  5. Pundak tegap dan kokoh sebagai tempat menempelnya sayap.
  6. Otot sayap yang cukup tebal menandakan kekuatannya mengepakkan sayapnya maksimal sehingga diperoleh jangkauan yang jauh dalam sekali kepakan. Bulu-bulu sayap rapi, tebal, panjang, lebar dan rapat menandakan bahwa merpati dapat mencapai jarak yang jauh dalam sekali kepakan karena sedikit udara yang terlepas. Bulu sayap primer normalnya terdiri dari 10 bulu, tetapi kadang ditemukan merpati dengan bulu sayap primer 11 bulu pada salah satu atau dua sayapnya. Keadaan ini akan menambah kerapatan bulu sayap.
  7. Kaki proposional dengan jari yang kecil dan panjang untuk mengarahkan angin kebelakang setelah melewati dada pada saat terbang.
  8. Tumpukan bulu pada bokong tebal dan tulang pubis cukup keras sehingga kekompakan otot untuk mencapai kecepatan akhir yang maksimal dapat terjamin.
  9. Tulang dada sedikit melengkung untuk mengurangi hambatan angin.
  10. Bulu ekor rapi dan menumpuk jadi satu sehingga memudahkan gerakan terbang dan mengurangi hambatan angin.
  11. Bulu halus, kering dan berlapis lilin untuk mengurangi hambatan dan mencegah tersimpannya air dari udara yang dapat mengurangi kecepatan burung karena bertambahnya berat badan.

Terkadang ciri-ciri tersebut tidak dapat seluruhnya pada seekor merpati. Oleh karena itu peternak perlu melakukan persilangan-persilangan agar kekurangan merpati yang satu dapat ditutupi
oleh merpati yang lain. Dengan begitu akan diperoleh merpati yang mendekati sempurna dalam hal postur pada generasi merpati selanjutnya.

Bagi peternak yang sangat mengutamakan kwalitas produknya, proses pemuliabiakan merupakan hal yang sangat diperhatikan. Umumnya peternak tidak menitipkan telur dari induk terbaik kepada induk yang lebih rendah kwalitasnya. Dengan kata lain sedapat mungkin anakan merpati diasuh oleh induknya sendiri. Bahkan mereka sangat selektif untuk memilih telur yang akan ditetaskan yaitu harus berbentuk normal tidak terlalu lonjong atau terlalu bulat, permukaan harus dan mengkila, serta tidak memiliki cacat sedikitpun. Namun cukup dimaklumi bila peternak melakukan seleksi sedemikian ketat karena hal ini berhubungan dengan nama baik peternakannya.

Asal usul merpati tinggi kolong Indonesia

Tidak ada keterangan pasti dari daerah mana awal pembentukan ras merpati ini. Cerita mungkin dapat kita rekayasa adalah bahwa leluhur kita memanfaatkan sifat keket atau giring merpati yaitu ketika burung jantan berusaha mengejar untuk mematuki betina pasangannya pada saat mendekati waktu bertelur.

Oleh karena sifat merpati yang cukup jinak, sang jantan akan mengejar betinanya dan hinggap diatas punggung betina walaupun saat itu betinanya sedang dipegang manusia. Kemudian leluhur kita mencobanya dengan jarak yang lebih jauh. Seiring bergantinya waktu generasi merpati dan generasi manusia terjadilah suatu kebiasaan dikalangan tertentu untuk bermain dengan menggunakan kemampuan merpati tersebut untuk perlombaan. Merpati-merpati pun mewarisi kemampuan leluhurnya dan semakin baik kwalitasnya. Dengan adanya pengetahuan yang dimiliki manusia dalam persilangan, seleksi dan cara melatih yang baik.

Oleh karena perlakuan yang diberikan oleh manusia berupa pelatihan terbang tinggi, masuk kolongan dan harus menungkik kedalam. merpati membutuhkan otot yang lebih kuat, tulang yang lebih ringan, serta bentuk yang sesuai untuk terbang cepat dan menungkik. Perubahan genotipe terjadi secara perlahan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Jadi merpati tinggian yang dikenal sekarang merupakan hasil kerja keras leluhur kita dalam menghasilkan suatu ras baru yaitu merpati tinggian. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab kita semua untuk melestarikan dan menjaganya dari pencurian bangsa lain. Caranya dengan mengembangkan dan melakukan perbaikan kwalitas genetiknya secara berkesinambungan.